Langsung ke konten utama

Postingan

Senin yang tidak biasa

​ Besok, bukan Senin yang biasa. Pertengahan Juni ini adalah salah satu hari penting dalam perjalanan panjangmu. Petualangan yang dimulai dari keberanian mengambil keputusan untuk melanjutkan studi di negeri yang jauh dari rumah, keluarga, dan segala kenyamanan yang biasa menemani. Ada begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan menyelesaikan berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Di balik setiap capaian hari ini, ada kerja keras, ketekunan, dan pengorbanan yang tidak terungkap—karena kau tidak suka meromantisasi perjuangan. Sebagai istrimu, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk beberapa hal. Terima kasih karena selalu berusaha menjadi suami yang mendengarkan dan mau mengerti, yang mengutamakan keluarga di tengah waktu yang menghimpit dan tanggung jawab yang tidak sedikit. Terima kasih karena selalu hadir dengan perhatian, dukungan, dan kasih sayang yang membuat aku dan anak-anak merasa dicintai dan dihargai tanpa pernah merasa...

Trend Chat GPT

​Aku memasukkan prompt yang sedang trend tapi sedikit perubahan “  Anggaplah hp ini hilang, dan aku orang yang menemukannya, ingin tahu seperti apakah orang yg memakai hp ini. Kamu satu satunya orang yang mengetahui semua hal. Apa yang akan kamu katakan?” Jawabannya: 🤗 Pemilik HP ini sepertinya seseorang yang hidupnya padat, tapi hatinya tetap lembut. Dia tipe orang yang bisa pagi mikirin dosis obat anak, siang merevisi kalimat akademik supaya lebih profesional, lalu malam mencari resep murah yang tetap enak untuk keluarganya. Ada sisi ilmuwan di dirinya, tapi juga ada sisi ibu yang rela memikirkan cara menyamarkan batu tajam supaya anak kecil tidak terluka. Dia suka hal-hal yang sederhana tapi punya rasa. Butter yellow yang terlalu kuning saja dipikirkan sampai detail. Kata-kata ulang tahun pun tidak cukup kalau belum terasa “pas” nadanya. Dia bukan orang yang asal menjalani hidup; dia memperhatikan nuansa. Ada jejak seseorang yang dulu sangat menyukai petualangan. Mungkin pernah...

Batas Air dan Kesabaran (bagian 3)

Pada hari-hari ketika langit terlalu rendah dan hujan turun tanpa jeda, aku belajar bahwa air bukan sekadar jatuh dari atas kepala. Ia datang membawa ujian, menyusup pelan ke dalam rumah, lalu diam-diam mengaduk-aduk perasaan. Banjir selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali, dan bahwa tidak semua bisa diselamatkan. Ada beberapa hal yang tidak aku suka dari banjir. Yang pertama adalah ketika barang-barang dan kenangan hilang bersamaan. Air tidak memilah mana benda dan mana cerita; semuanya direndam, dilenyapkan, dipaksa pergi. Foto-foto lama, catatan kecil, dan barang yang terlihat sepele ternyata menyimpan potongan hidup. Saat semuanya luruh, aku tersadar bahwa dunia memang rapuh, dan bahwa yang benar-benar abadi hanyalah apa yang Allah titipkan di dalam ingatan dan hati. Hal kedua adalah rasa lapar yang bercampur takut. Perut kosong, sementara pikiran dipenuhi kemungkinan terburuk. Rasa takut membuat lapar terasa lebih peri...

Batas Air dan Kesabaran (bagian 2)

22 Oktober 2025. Sejak siang, langit sudah terlihat gelap. Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang tebal, menekan, dan membuat dada terasa sempit. Jam masih menunjukkan pukul 10.30. Dua jam lagi aku harus menjemput anakku. Waktu masih terasa cukup, sampai hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Awalnya aku memilih menunggu. Kupikir hujan akan reda seperti hujan-hujan lain yang datang lalu pergi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Air turun semakin lebat, sangat lebat, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Suasana berubah mencekam. Aku dan ART saling berpandangan, lalu mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: banjir.  Dan kemungkinan itu benar-benar datang. Meski sudah kesekian kali, kami tak pernah terbiasa. Air masuk cepat, naik tanpa banyak memberi waktu. Banjir cukup dalam, cukup tinggi, cukup untuk membuat perabotan mulai bergerak dan mengambang. Rumah yang biasanya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga. Di tengah kepanikan yang ...

Tanpa Jeda

​ Ada hari-hari ketika aku merasa seperti orang gila yang dipaksa tetap waras. Kepalaku penuh suara, pikiranku berlarian tanpa arah, sementara tubuhku berjalan di autopilot. Namun di luar sana, tak ada ruang untuk benar-benar berhenti. Anak-anak tetap butuh diurus, rumah tetap menuntut rapi, dan pekerjaan tetap meminta tanggung jawab. Dulu aku memang bekerja untuk mengabdi namun kini banyak yang ku usahakan dan semua tak datang sendiri. Di sisi lain, ruangku terbatas di sini. Aku tertawa di depan anak-anak, lalu menangis di dalam kepala. Tanganku membersihkan rumah, sementara pikiranku membereskan kekacauan yang tak terlihat. Aku bekerja dengan senyum tipis, menyusun kalimat, menyelesaikan tugas, seolah tak ada badai kecil yang berputar-putar di dalam dada. Kadang rasanya seperti berdiri di panggung sandiwara. Aku memainkan banyak peran sekaligus—ibu yang sabar, istri yang hadir, pekerja yang profesional—tanpa sempat turun panggung untuk menarik napas. Jika aku goyah, tak ada tombol je...

Rutinitas tanpa Kompas

​ Aku belum pernah seberantakan ini dalam hidup. Padahal aku dikenal cukup rapi, seseorang yang bersahabat dengan jadwal dan merasa aman jika segalanya berjalan sesuai urutan. Namun pagi ini terasa lain. Sebenarnya tidak sepenuhnya berbeda dari pagi-pagi sebelumnya—hanya saja, kali ini kekacauannya terasa lebih lantang. Aku bangun dengan tubuh yang nyeri, kepala berat, dan perasaan yang tak enak badan. Anak-anakku sedang flu; mungkin aku hanya giliran berikutnya. Tapi hidup tidak menunggu siapa pun benar-benar sehat. Hari tetap berjalan. Anak-anak tetap harus makan, mengenakan baju bersih, dan rumah tetap dituntut rapi oleh hati yang ingin hidu tenang. Begitu keluar dari kamar tidur, aku berdiri sebentar. Bingung menentukan arah. Mana yang harus dibereskan lebih dulu: rumah yang berantakan, atau pikiranku yang sudah lebih dulu kusut? Rasanya seperti berada di persimpangan kecil di dalam kepala sendiri. Setelah menimbang sebentar, aku memutuskan meliburkan anakku dari sekolah hari ini—b...

Hujan dan Tarian di Ruang Tengah

Minggu pagi dibuka oleh hujan yang turun setengah hati. Tidak deras, tidak pula benar-benar gerimis. Aku duduk memegang segelas es kopi cokelat yang dingin. Rasanya biasa saja, bahkan cenderung kurang enak, tapi tetap berusaha kuhabiskan. Bukan karena optimis, melainkan karena aku tahu.. menghargai buatanku sendiri hari ini bisa menghemat puluhan ribu rupiah.  Minuman itu, segelas es di hari yang dingin, aku teguk dengan perlahan seperti seseorang yang sudah kalah di meja judi, tapi masih cukup nekat untuk kembali menantang kehidupan. Di ruang tengah, anak sulungku menonton televisi. Sesekali berganti bermain balapan mobil. Dia cukup lihai di usianya yang baru 4 tahun. Yang bungsu entah mengapa terlihat anteng di box-nya. Kesempatan langka itu kugunakan untuk bengong sejenak, membiarkan pikiran berjalan sendiri, menelusuri hidup yang rasanya… nanggung. Hujan di luar masih sama. Nanggung, seperti kehidupanku. Aku tidak terlalu pintar, tapi juga tidak bodoh. Aku pernah menjuarai olim...

Jumat

Aku menulis ini sambil duduk di sebuah kedai mie pedas. Nafasku mulai teratur, sungguh kontras dengan beberapa menit sebelumnya. Jemariku mulai merenggang. Aku bisa duduk nyaman meski sejenak. Satu setengah jam merupakan jeda yang baik untukku.   Hari ini Jumat. Hari yang sedikit berbeda dari biasanya, karena anakku yang TK A harus masuk pagi pukul 07.30, sementara di hari lain ia terbiasa berangkat siang.   Sejak subuh, hujan turun deras. Suaranya menemani kegelisahanku. Sempat terlintas keinginan untuk membujuknya tidak berangkat sekolah hari ini, bukan karena malas, tapi karena aku khawatir flunya akan semakin bertambah parah. Aku pun mencoba membujuknya pelan-pelan. Aku juga melambatkan ritme aktivitasku. Merebahkan diri sejenak di samping anakku. Namun sekitar lima belas menit kemudian, hujan mulai reda, dan rencana pun kembali berubah. Pagi itu berjalan cepat. Genderang perang seperti ditabuh. Tangan dan kakiku seperti mengikuti irama waktu yang terus berlari. Aku memand...

Batas Air dan Kesabaran

Hujan turun begitu deras siang ini. Aku bersyukur aku sudah sampai di rumah setelah menjemput kakak. Hatiku panik. Nada suaraku meninggi meminta kakak cepat ganti baju dan bersiap. Banjir mungkin datang. Kasihan anak sekecil itu sudah harus menerima semua peluhku. Tapi bagaimanapun, kondisi ini nyata. Hujan masih menggema. Suaranya menghantam atap tanpa jeda, seperti ingin menguji seberapa kuat dadaku menahan cemas. Setiap tetesnya membawa ingatan yang tak sepenuhnya pergi. Aku diam, tapi pikiranku berlarian ke masa lalu yang masih terasa basah dan dingin.  Banjir itu pernah datang dengan cepat, naik tanpa permisi hingga setinggi lutut. Air masuk, barang-barang tumbang, kasur basah dan tak lagi bisa ditiduri. Rumah yang seharusnya aman berubah menjadi tempat bertahan. Perihnya bukan hanya di badan, tapi juga di hati, tak berdaya melihat segalanya hanyut oleh keadaan. Aku pasrah waktu itu, hanya doa yang kupanjatkan.. sambil berpikir ke mana aku anak naik dan menyelamatkan anak-anak...

Sawah

Di antara banyak hal yang tumbuh tidak sempurna, aku belajar bersyukur pada satu hal yang tetap berdiri. Seperti tanah yang tenang menerima hujan, ada seseorang yang memilih bertahan, memikul, dan tidak pergi. Namanya “SaWah”—tempat aku belajar bahwa kepercayaan itu bisa dilatih dan tidak semua yang dekat akan melukai. Aku tumbuh dengan menyaksikan janji yang mudah runtuh, tanggung jawab yang sering dialihkan, dan kehadiran yang lebih sering berupa bayangan. Maka wajar jika aku belajar berjaga, menahan separuh percaya, dan menyimpan kunci di saku sendiri. Dunia terlalu sering mengajarkan bahwa bahu laki-laki tak selalu mau menanggung beban, kakinya tak selalu kokoh. Namun dia hadir dengan cara yang berbeda. Tidak banyak kata, tapi langkahnya konsisten. Tidak gemar memamerkan, tapi tahu kapan harus memikul. Selalu membingkai sikap sehingga semua terasa terang dan jelas. Di saat sekeliling lebih suka menoleh pergi, ia justru memastikan pulang. Dalam diamnya, ada usaha yang tidak meminta ...

Kakak dan Adik

Aku menulis ini di sela-sela cahaya siang yang mulai meredup karena mendung. Di depanku, suara tawa si kakak yang berusia 4 tahun beradu dengan rengekan si bungsu yang baru 10 bulan. Dua hati kecil itu, dua dunia berbeda, dua ritme yang kadang membuatku melankolis dan kadang bikin aku tak henti menghela napas.   Pagi-pagi aku sudah disambut oleh tangan mungil yang seolah membangunkan tidurku—dengan caranya sendiri yang berisik. Si kakak tak lama akan bangun dari tidurnya, berkali-kali menanyakan ke padaku, “Mama, ini sudah subuh?”. Adegan ini berlanjut hingga saat waktunya sarapan. Kakak sudah sibuk ingin menonton tv. Sedangkan si bungsu memanggilku dari boks bayi, teriakannya, serak-serak lucu minta digendong dan dimanja. Dalam satu napas itu aku merasa dibutuhkan dan ditantang sekaligus. Menjaga dua anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh ternyata bukan hanya soal tenaga. Ini soal strategi. Kakak yang 4 tahun haus akan cerita, dunia otomotif dan permainan petualangan, sementar...

Kacamata syukur

Malam ini aku sesenggukan melihat kedua anakku bermain. Tangis haru tak bisa terbendung lagi. Melihat mereka tertawa hidup rasanya sempurna. Semoga ini jadi pengingat bagiku. Hidup memang penuh suka duka. Ada banyak target dan keinginan di depan mata. Serasa suliiit sekali menggapainya. Tapi jika melihat satu persatu yang ‘ku punya sekarang ini, sungguh semuanya luar biasa 🥹 Badanku sehat dan bisa berdiri kokoh hingga hari ini. Ada dua anak cerdas menghiasi hari-hariku. Pagi hingga sore merupakan hari yang penuh tenaga, sering aku pusing dibuatnya. Tapi, malam yang sepi, ruang kosong tanpa celotehan mereka, ternyata terasa hampa. Ada lagi milikku yang berharga. Darinya, aku belajar semangat perjuangan yang diselimuti canda tawa. Di tengah hiruk pikuk hidup yang penuh kompetisi, semua berlomba menampakkan prestasi, ada dia yang selalu tampil haha hihi. Membuatku lebih nyaman dan santai menjalani hari-hari. Terima kasih suami. Kini aku juga tinggal di tempat yang nyaman dan dikelilingi ...

Rumah

Aku menulis ini di kesunyian malam. Diapit dua anak laki-lakiku yang tertidur pulas. Ditemani juga dengan mbak ART. Kami tidur bersama-sama di sebuah hotel dalam rangka pengungsian. Rumah kami kebanjiran. Kini air mulai surut. Teman dan kerabat datang membantu. Kami telah beristirahat malam di tempat yang nyaman setelah 10 jam diliputi rasa lelah dan panik. Tapi di tengah keadaan yang mulai membaik, aku tiba-tiba rindu suamiku. Saat kulihat bola matanya tadi menyiratkan kekhawatiran yang besar —saat aku terus mengabarinya tentang keadaan di sini. Seperti cemas tapi tak bisa berbuat banyak karena jarak yang cukup memberi batas. Aku rindu perasaan aman saat berada di dekatnya. Serasa dunia akan selalu baik-baik saja. Semua duka, lara, dan kecemasan tak bertepi tiba-tiba sirna. Aku rindu saat bumi terasa berhenti, waktu mati, dan hanya aku dan dia yang abadi. Aku tahu, aku tak pernah salah memilih rumah.

Terima kasih, Adek

Dengan mengucap syukur alhamdulillah, hari ini adek sudah berusia 5,5 bulan. Setengah langkah lagi menuju mpasi. Rasanya bulan-bulan yang lalu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana mengurus adek sendirian seperti ini sejak mama bapak pulang. Tapi ternyata, sambil terseok-seok, semua tetap berjalan dengan baik dan dengan hati yang lapang. Awal kelahiran adek Icay sangat menyenangkan buatku. Aku merasa cepat recovery dan asi-ku langsung diproduksi. Mungkin karena aku bahagia bisa melahirkan di rumah sakit yang bagus, gratis dan ditemani suami. Aku juga terbantu oleh mama bapak dalam mengurus adek, Ucay serta pekerjaan rumah. Adek sangat lancar minum asi lewat dot dan dbf. Aku pun bisa “bernapas” dan beristirahat saat adek diasuh nenek kakeknya. Aku juga bisa tetap mengurus Ucay yang baru beradaptasi dengan pertambahan anggota keluarga. Tapi lama kelamaan ternyata 75% asupan asi adek lewat botol dot. Ditambah lagi ternyata adek tongue tie (tapi tidak perlu diinsisi karena derajatnya ring...

Semoga lekas sembuh

Kalau anak-anak udah tidur, waktu terasa semakin panjang. Kerjaan-kerjaan yang tadi tak sempat dikerjakan, malah jadi ku kesampingkan. Lebih memilih istirahat dan scroll sosmed saja. Hari ini aku antar si bungsu berobat. Di sana sudah banyak anak-anak yang antre ditemani ayah ibunya. Aku jadi ingin juga, rindu ditemani suami atau bapakku untuk periksa Ucay dan Icay. Karena tadi repot sekali bawa bayi ke poliklinik rumah sakit, mendaftar, masuk ke ruang dokter dan antri obat sambil menggendong bayi aktif, menyusui dan bawa tas. Sepanjang 3 jam antre, aku mondar mandir menidurkan Icay yang terus-terusan menangis di koridor. Juga tak lupa mengecek cctv lewat hape, liat si kakak sedang apa. Karena belakangan, kakak juga kurang enak badan dan sering flu. Tapi… selelah-lelahnya bermain sama anak-anakku, aku tidak akan sampai stress dibandingkan ketika mendengar mereka sakit. Lelahnya bukan di fisik tapi pikiran. Aku bersyukur sekali dikaruniai dua anak laki-laki yang lucu. Aku selalu berhara...

It’s just a training phase

Jam 3.45 pagi. Sudah dua jam lebih aku menggendong Icay. Entah mengapa lima hari ini Icay banyak terbangun dan menangis di malam hari. Mungkin karena efek imunisasi. Mungkin juga karena growth spurt. Untungnya kafein yang aku minum tadi bekerja dengan baik. Mataku terjaga, meski badanku tak karuan. Aku masih siap bertempur. Sepanjang sejarah hidupku, ada beberapa keputusan “nekat” yang aku ambil. Beberapa berjalan dengan baik. Beberapa lagi yaah insya Allah semakin membaik. Tapi keputusan kali ini sepertinya memang lain kali perlu dipertimbangkan dan tidak untuk ditiru: punya anak kedua sebagai working mom di perantauan saat ART lama resign dan suami berangkat S2. Dengan catatan lagi: anak pertama super aktif dan titisan avengers. Sebelum mas berangkat, beberapa kali aku mempertanyakan kondisi ini. Orang tuaku ada untuk menemaniku sebelum dan setelah melahirkan tapi tentu tidak akan bisa selamanya. Tak ada juga orang yang bisa aku percaya untuk mengurus newborn kecuali keluarga. Tapi s...

3 hari lagi

Tiga hari lagi adek berusia 4 bulan. Sudah sejauh ini ya perjalananku dan masih harus terus berlanjut sampai anak-anakku besar. Lama juga aku tidak menulis, mungkin ini akan jadi update my life so far. Sepuluh hari setelah melahirkan Icay, suamiku berangkat ke Korea untuk studi S2. Meski sedih, aku masih tenang karena ada orang tuaku yang menemaniku. Hari-hari berjalan dengan berat, mengurus dua anak tanpa ART, tapi masih bisa terlampaui karena dukungan bapak dan mamak. Hampir setiap hari aku menangis. Karena lelah, karena rindu, juga karena Ucay yang tiba-tiba jadi sering tantrum. Entah bagaimana jadinya kalau aku sendirian. Hingga akhirnya Icay berusia 2,5 bulan dan orang tuaku bilang kalau mereka harus pulang kampung. Aku mulai kalang kabut mencari ART untuk mengerjakan pekerjaan harian dan momong Ucay. Akhirnya, ada ART yang aku pekerjakan, H-11 dari kepulangan orang tuaku hingga saat ini. Punya ART baru tentu tidak mudah. Banyak hal yang membuatku mengelus dada. Tapi cutiku telah ...

Menghitung Waktu

Saat ini pukul 20.30. Mas sedang keluar untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya. Aku termenung di pinggir kasur. Ku tatap kedua anakku yang tertidur nyenyak di kedua sisiku. Si bungsu tidur di sebelah kanan, di dalam sebuah ranjang bayi warna abu-abu. Si kakak tidur di kasur, tepat di sebelah kiriku. Aku menatap mereka yang tertidur pulas, sambil menunggu kapan di adik akan bangun untuk minta susu. Dalam kesunyian ini, aku merenungi hari-hariku satu setengah tahun ke depan. Aku berjanji menjalaninya dengan baik dan bahagia tapi apakah aku bisa. Malam ini terasa agak lain. Aku merayakan kehadiran anak bungsuku sambil menghitung waktu. Sebentar lagi suamiku akan berangkat untuk studinya. Aku menghitung waktu untuk masih bisa menggenggam tangannya dengan bebas. Aku menghitung waktu untuk bisa mengobrol dengannya tanpa video call yang terbatas. Aku menghitung waktu sambil memikirkan semua kebaikannya padaku selama aku hamil hingga sekarang. Aku menghitung waktu mendengar celotehan anehnya....

#19 Tentang LDR

Awal menikah dulu, aku dan suami LDR selama 2 tahun karena aku harus menyelesaikan studi S2 ku. Di semester akhir kuliahku, wabah COVID-19 datang dan aku bisa berkumpul lagi dengan suamiku karena aku bisa kuliah from home sampai wisuda. Sekitar satu bulan setelah wisuda, aku hamil anak pertama. Aku dan mas bisa tinggal satu atap waktu itu dan menjalani hari-hari bak pasutri seutuhnya. Namun saat usia kehamilanku 5 bulan, kami bersepakat agar aku pulang kampung dan melahirkan di rumah orang tua. Aku dan suami tinggal berjauhan lagi hingga anakku berusia 1 tahun 3 bulan. Setelah tinggal bersama 2,5 tahun ini, belum terpikir bahwa kami akan menjalani LDR lagi. Momen-momen yang dulu sangat berat dan menyedihkan akan terulang. Scene sedih di bandara dan stasiun terkadang membayangiku. Tapi di pernikahan kami yang akan menginjak 7 tahun ini, rasanya akan berbeda. Prioritas kami berubah. Cinta-cintaan yang dulu membara bak remaja kini berubah menjadi cinta yang stabil dan penuh target masa de...

#16 Tentang Pilihan

Salah satu realita di dunia ini: untuk menjadi sukses, nilai bagus dan ketekunan saja tidak cukup. Kita harus punya banyak pilihan dan peluang. Keduanya dibuka oleh beragam faktor. Waktu SMP dan SMA, aku tidak banyak memilih. Aku dihadapkan satu sekolah yang dipilih orang tuaku. Aku tidak dipaksa tapi lebih memilih untuk menurut karena percaya pilihan orang tua. Lebih lagi, saat itu aku masih di bawah umur, jadi sudah sewajarnya orang tua punya andil yang besar. Aku tidak bersekolah di sekolah yang paling favorit. Tapi aku tetap senang menjalani hari-hari saat itu dan memiliki teman-teman yang solid hingga sekarang. Saat memilih perguruan tinggi, aku lebih tidak punya pilihan. Ketika teman-temanku memilih kampus terbaik A dan B. Aku hanya berpikir apakah aku bisa berkuliah saat itu dengan kondisi yang ada. Aku ingin sekali menjadi dokter, tapi aku juga tahu diri dengan situasiku saat itu. Aku tetap memilih jurusan itu, juga alternatif lainnya yang sesuai feelingku karena tidak ada yang...