Pada hari-hari ketika langit terlalu rendah dan hujan turun tanpa jeda, aku belajar bahwa air bukan sekadar jatuh dari atas kepala. Ia datang membawa ujian, menyusup pelan ke dalam rumah, lalu diam-diam mengaduk-aduk perasaan. Banjir selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali, dan bahwa tidak semua bisa diselamatkan.
Ada beberapa hal yang tidak aku suka dari banjir. Yang pertama adalah ketika barang-barang dan kenangan hilang bersamaan. Air tidak memilah mana benda dan mana cerita; semuanya direndam, dilenyapkan, dipaksa pergi. Foto-foto lama, catatan kecil, dan barang yang terlihat sepele ternyata menyimpan potongan hidup. Saat semuanya luruh, aku tersadar bahwa dunia memang rapuh, dan bahwa yang benar-benar abadi hanyalah apa yang Allah titipkan di dalam ingatan dan hati.
Hal kedua adalah rasa lapar yang bercampur takut. Perut kosong, sementara pikiran dipenuhi kemungkinan terburuk. Rasa takut membuat lapar terasa lebih perih, lebih sunyi. Di saat seperti itu, aku memahami betapa lemahnya manusia—dan betapa seringnya nama-Nya terucap justru ketika segalanya terasa tak pasti. Banjir mengajariku bahwa pasrah bukan tanda menyerah, melainkan bentuk kepercayaan paling jujur kepada Tuhan.
Yang paling menyiksa adalah bau khas kain basah. Bau yang menetap, menempel di pakaian, dinding, dan udara, seolah menolak pergi meski hari sudah berganti. Ia baru benar-benar hilang setelah dua minggu, atau lebih. Seperti luka yang tidak bisa dipercepat sembuhnya. Dari bau itu, aku belajar tentang sabar yang sesungguhnya: menerima proses, menjalani hari demi hari, dan percaya bahwa segala yang tidak nyaman pun punya batas waktu.
Banjir tidak datang dengan kelembutan. Ia meninggalkan kekacauan, kelelahan, dan kehilangan. Namun di balik semua itu, ada iman yang dipaksa tumbuh, doa yang lebih lirih tapi jujur, dan hati yang belajar tunduk. Banjir membuatku terus menyebut nama-Nya, bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena hanya kepada-Nya aku bisa benar-benar bersandar.
Dan mungkin itulah hikmah yang paling diam namun paling dalam: bahwa di antara air yang naik dan bau yang bertahan, Tuhan sedang mengajarkan manusia untuk melepaskan, bersabar, dan percaya—bahwa setelah semua surut, yang tersisa bukan hanya rumah yang dibersihkan, tetapi hati yang lebih lapang.
Komentar