Aku menulis ini di sela-sela cahaya siang yang mulai meredup karena mendung. Di depanku, suara tawa si kakak yang berusia 4 tahun beradu dengan rengekan si bungsu yang baru 10 bulan. Dua hati kecil itu, dua dunia berbeda, dua ritme yang kadang membuatku melankolis dan kadang bikin aku tak henti menghela napas.
Pagi-pagi aku sudah disambut oleh tangan mungil yang seolah membangunkan tidurku—dengan caranya sendiri yang berisik. Si kakak tak lama akan bangun dari tidurnya, berkali-kali menanyakan ke padaku, “Mama, ini sudah subuh?”. Adegan ini berlanjut hingga saat waktunya sarapan. Kakak sudah sibuk ingin menonton tv. Sedangkan si bungsu memanggilku dari boks bayi, teriakannya serak-serak lucu minta digendong dan dimanja. Dalam satu napas itu aku merasa dibutuhkan dan ditantang sekaligus.
Menjaga dua anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh ternyata bukan hanya soal tenaga. Ini soal strategi. Kakak yang 4 tahun haus akan cerita, dunia otomotif dan permainan petualangan, sementara adiknya yang 10 bulan masih harus diperjuangkan jadwal menyusui, MPASI dan tidurnya. Banyak kejadian ketika aku merasa seperti tentara yang harus siap di medan perang—memegang tangan si kakak yang terus berlompatan menantang bahaya di depan, sambil menenangkan si bayi yang menolak diturunkan dari gendongan.
Ada pula malam-malam panjang ketika si kecil bangun berkali-kali… ketika lapar, haus, batuk, bahkan muntah dan mengompol. Aku merasa dunia hanya milik kami bertiga: aku, bayi yang butuh susu, dan si kakak yang merajuk karena ingin pelukan. Kupejamkan mata sejenak dan mencoba bernapas. Membayangkan bila semua ini akan berlalu dengan cepat membuat aku jadi sedikit lega. Padahal aku tahu momen seperti ini suatu hari akan hilang, dan aku akan merindukannya.
Namun dari semua kerepotan dan kepayahan yang seakan tak pernah berhenti, ada tawa yang tak pernah hilang. Cara si kakak memanggilku terus-menerus untuk menunjukkan sesuatu yang menurutnya keren, atau ketika si adik menggenggam jariku dan tersenyum.. seperti obat herbal tanpa efek samping, bagai aroma terapi yang menenangkan jiwa. Dua anak itu bukan hanya tugas yang tanpa jeda, tapi juga hadiah yang mengubah kebiasaan dan caraku memandang dunia.
Dan ketika malam tiba, saat semuanya terlelap, aku duduk di ujung kasur sendirian sambil menatap pelan dua bayangan kecil itu. Dengan segala suka dukanya, aku belajar tentang kesabaran, tentang memberi tanpa hitungan, dan tentang betapa besar cinta bisa tumbuh dari hal-hal sederhana: suara tawa, rengekan yang minta digendong, dan terangnya binar mata.
Menjaga dua anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh ternyata bukan hanya soal tenaga. Ini soal strategi. Kakak yang 4 tahun haus akan cerita, dunia otomotif dan permainan petualangan, sementara adiknya yang 10 bulan masih harus diperjuangkan jadwal menyusui, MPASI dan tidurnya. Banyak kejadian ketika aku merasa seperti tentara yang harus siap di medan perang—memegang tangan si kakak yang terus berlompatan menantang bahaya di depan, sambil menenangkan si bayi yang menolak diturunkan dari gendongan.
Ada pula malam-malam panjang ketika si kecil bangun berkali-kali… ketika lapar, haus, batuk, bahkan muntah dan mengompol. Aku merasa dunia hanya milik kami bertiga: aku, bayi yang butuh susu, dan si kakak yang merajuk karena ingin pelukan. Kupejamkan mata sejenak dan mencoba bernapas. Membayangkan bila semua ini akan berlalu dengan cepat membuat aku jadi sedikit lega. Padahal aku tahu momen seperti ini suatu hari akan hilang, dan aku akan merindukannya.
Namun dari semua kerepotan dan kepayahan yang seakan tak pernah berhenti, ada tawa yang tak pernah hilang. Cara si kakak memanggilku terus-menerus untuk menunjukkan sesuatu yang menurutnya keren, atau ketika si adik menggenggam jariku dan tersenyum.. seperti obat herbal tanpa efek samping, bagai aroma terapi yang menenangkan jiwa. Dua anak itu bukan hanya tugas yang tanpa jeda, tapi juga hadiah yang mengubah kebiasaan dan caraku memandang dunia.
Dan ketika malam tiba, saat semuanya terlelap, aku duduk di ujung kasur sendirian sambil menatap pelan dua bayangan kecil itu. Dengan segala suka dukanya, aku belajar tentang kesabaran, tentang memberi tanpa hitungan, dan tentang betapa besar cinta bisa tumbuh dari hal-hal sederhana: suara tawa, rengekan yang minta digendong, dan terangnya binar mata.
Komentar