Aku belum pernah seberantakan ini dalam hidup. Padahal aku dikenal cukup rapi, seseorang yang bersahabat dengan jadwal dan merasa aman jika segalanya berjalan sesuai urutan. Namun pagi ini terasa lain. Sebenarnya tidak sepenuhnya berbeda dari pagi-pagi sebelumnya—hanya saja, kali ini kekacauannya terasa lebih lantang.
Aku bangun dengan tubuh yang nyeri, kepala berat, dan perasaan yang tak enak badan. Anak-anakku sedang flu; mungkin aku hanya giliran berikutnya. Tapi hidup tidak menunggu siapa pun benar-benar sehat. Hari tetap berjalan. Anak-anak tetap harus makan, mengenakan baju bersih, dan rumah tetap dituntut rapi oleh hati yang ingin hidu tenang.
Begitu keluar dari kamar tidur, aku berdiri sebentar.
Bingung menentukan arah.
Mana yang harus dibereskan lebih dulu: rumah yang berantakan, atau pikiranku yang sudah lebih dulu kusut? Rasanya seperti berada di persimpangan kecil di dalam kepala sendiri. Setelah menimbang sebentar, aku memutuskan meliburkan anakku dari sekolah hari ini—bukan karena menyerah, tapi karena aku tahu, aku perlu ruang bernapas sedikit lebih panjang.
Si kakak sudah bangun sejak tadi. Tak lama kemudian, adiknya menyusul, terbangun dengan tangisan yang keras. Dan di saat itulah, mungkin aku terlihat aneh di mata orang lain. Ketika tangisan itu memenuhi rumah, aku justru mengambil piring dan makan. Jika kau melihatnya, mungkin kau akan menyebutku tega, tidak berperasaan, atau apa pun itu.
Namun percayalah, tindakanku terukur. Aku tidak sedang mengabaikan, aku sedang menguatkan diri. Aku perlu memastikan tubuhku punya tenaga, dan pikiranku tidak runtuh sepenuhnya. Kadang, aku bahkan merapikan perasaan dengan menatap layar ponsel sebentar—seperti menarik napas kecil sebelum menyelam lebih dalam. Aku tahu, dua atau tiga menit tangisan itu tidak akan membahayakannya. Dan aku tahu, saat aku menggendongnya nanti, aku akan datang dengan perasaan yang lebih utuh.
Dalam diam, aku membayangkan diriku yang lama. Versi diriku yang ketika sakit, hanya membutuhkan satu hal sederhana: beristirahat seharian, sementara rutinitas anak-anak tetap berjalan tanpa harus kupikul sendiri. Barangkali itu bukan permintaan yang besar, hanya harapan kecil yang disimpan diam-diam.
Komentar