Di antara banyak hal yang tumbuh tidak sempurna, aku belajar bersyukur pada satu hal yang tetap berdiri. Seperti tanah yang tenang menerima hujan, ada seseorang yang memilih bertahan, memikul, dan tidak pergi. Namanya “SaWah”—tempat aku belajar bahwa kepercayaan itu bisa dilatih dan tidak semua yang dekat akan melukai.
Aku tumbuh dengan menyaksikan janji yang mudah runtuh, tanggung jawab yang sering dialihkan, dan kehadiran yang lebih sering berupa bayangan. Maka wajar jika aku belajar berjaga, menahan separuh percaya, dan menyimpan kunci di saku sendiri. Dunia terlalu sering mengajarkan bahwa bahu laki-laki tak selalu mau menanggung beban, kakinya tak selalu kokoh.
Namun dia hadir dengan cara yang berbeda. Tidak banyak kata, tapi langkahnya konsisten. Tidak gemar memamerkan, tapi tahu kapan harus memikul. Selalu membingkai sikap sehingga semua terasa terang dan jelas. Di saat sekeliling lebih suka menoleh pergi, ia justru memastikan pulang. Dalam diamnya, ada usaha yang tidak meminta tepuk tangan.
Aku tidak sepenuhnya sembuh dari curiga. Ada hari-hari di mana pikiranku kembali memasang pagar tinggi. Tapi dia tidak tersinggung oleh kehati-hatian itu. Ia menunggu, memperbaiki, dan membuktikan dengan waktu.. bahwa rasa aman itu bisa hadir dengan perlahan.
Aku berharap kami akan terus berjalan berdampingan, menjaga apa yang rapuh dengan akar kepercayaan yang kuat. Merawat cerita kami bak merawat tanaman: perlahan, sabar, dan penuh tanggung jawab. Tidak selalu mudah, tapi selalu diupayakan.
Jika kelak perjalanan ini berlanjut melewati batas dunia, aku ingin kami masih saling mengenali. Dengan nama yang sama, namamu dan aku selalu yang saling bertautan, dengan janji yang dijaga, sampai langkah tak lagi terhitung oleh waktu.. hingga tempat di mana semua yang setia akhirnya beristirahat.
Komentar