Ada hari-hari ketika aku merasa seperti orang gila yang dipaksa tetap waras. Kepalaku penuh suara, pikiranku berlarian tanpa arah, sementara tubuhku berjalan di autopilot. Namun di luar sana, tak ada ruang untuk benar-benar berhenti. Anak-anak tetap butuh diurus, rumah tetap menuntut rapi, dan pekerjaan tetap meminta tanggung jawab. Dulu aku memang bekerja untuk mengabdi namun kini banyak yang ku usahakan dan semua tak datang sendiri. Di sisi lain, ruangku terbatas di sini.
Aku tertawa di depan anak-anak, lalu menangis di dalam kepala. Tanganku membersihkan rumah, sementara pikiranku membereskan kekacauan yang tak terlihat. Aku bekerja dengan senyum tipis, menyusun kalimat, menyelesaikan tugas, seolah tak ada badai kecil yang berputar-putar di dalam dada.
Kadang rasanya seperti berdiri di panggung sandiwara. Aku memainkan banyak peran sekaligus—ibu yang sabar, istri yang hadir, pekerja yang profesional—tanpa sempat turun panggung untuk menarik napas. Jika aku goyah, tak ada tombol jeda. Jika aku lelah, dunia tak benar-benar peduli.
Namun anehnya, aku tetap bertahan. Bukan karena aku kuat, tapi karena tidak ada pilihan lain. Di tengah rasa ingin berteriak, aku masih bisa menggantikan baju anakku dan menyuapinya sambil membuat bekal sekolah. Di tengah kepala yang nyaris pecah, aku masih bisa menyapu lantai. Dan di antara kekacauan batin, aku masih bisa menyelesaikan pekerjaan.
Banyak yang punya tanggung jawab lebih berat. Namun setidaknya ia masih punya waktu sendiri; bisa bernapas sebentar dan punya waktu tidur lebih lama. Sedangkan aku hanya sendiri, tanpa bisa melepas tanganku sedetikpun dari semua tanggung jawab ini. Dan yang paling menyakitkan adalah anakku menangis menjerit membutuhkanku setiap waktu tapi masih banyak hal yang harus aku selesaikan. Yang jika aku tunda akan menimbulkan kekacauan lainnya.
Tapi ini adalah pilihan hidup yang harus dihadapi. Tak bisa aku menuntut empati. Jadi aku keluar rumah dan berinteraksi seperti biasa.
Mungkin inilah kegilaan yang paling sunyi: terlihat baik-baik saja, sambil menahan diri agar tidak runtuh. Dan jika suatu hari aku tampak biasa saja, ketahuilah itu bukan karena aku tidak lelah, tapi karena aku sudah belajar bertahan tanpa banyak suara.
Komentar