Aku menulis ini sambil duduk di sebuah kedai mie pedas. Nafasku mulai teratur, sungguh kontras dengan beberapa menit sebelumnya. Jemariku mulai merenggang. Aku bisa duduk nyaman meski sejenak. Satu setengah jam merupakan jeda yang baik untukku.
Hari ini Jumat. Hari yang sedikit berbeda dari biasanya, karena anakku yang TK A harus masuk pagi pukul 07.30, sementara di hari lain ia terbiasa berangkat siang.
Sejak subuh, hujan turun deras. Suaranya menemani kegelisahanku. Sempat terlintas keinginan untuk membujuknya tidak berangkat sekolah hari ini, bukan karena malas, tapi karena aku khawatir flunya akan semakin bertambah parah. Aku pun mencoba membujuknya pelan-pelan. Aku juga melambatkan ritme aktivitasku. Merebahkan diri sejenak di samping anakku. Namun sekitar lima belas menit kemudian, hujan mulai reda, dan rencana pun kembali berubah.
Pagi itu berjalan cepat. Genderang perang seperti ditabuh. Tangan dan kakiku seperti mengikuti irama waktu yang terus berlari. Aku memandikan anak sulung dan bungsuku secara bergantian. Di sela-sela itu, dapur tetap harus hidup—aku memasak sarapan sambil sesekali menoleh ke kamar mandi dan ruang tengah. Semua kulakukan sambil berpacu dengan waktu.
Tantangan belum selesai. Anakku yang bayi pagi itu susah sekali makan. Suapan demi suapan terasa lebih lama dari biasanya. Sabar terus kuperpanjang, meski jam di dinding tak berhenti bergerak. Aku memutuskan untuk membersihkan piring-piring sisa makan semalam. Sambil berdoa agar bayiku mau mengisi perutnya dengan lahap..dan cepat.
Saat akhirnya semua terasa hampir siap, tiba-tiba sang bayi buang air besar. Aku terdiam sebentar, lalu kembali bergerak. Tidak ada pilihan lain selain menata ulang waktu yang sudah berantakan sejak awal.
Setelah itu aku pun bersiap. Aku membawa kopi plus susu oat sebagai bekal menunggu di sekolah, karena rasanya akan lebih melelahkan jika harus pulang-pergi. Aku memesan grab dan bersiap berangkat. Namun baru beberapa langkah, aku sadar handphone tertinggal. Di saat yang sama, kopi yang kubawa tumpah ke dalam tas.
Aku kembali ke rumah. Membersihkan tas, mengurus kopi yang tumpah, lalu mengambil ponsel yang tertinggal. Langkahku terasa lebih berat seperti pikiranku, tapi semua tetap harus dilanjutkan.
Akhirnya kami benar-benar bisa berangkat. Terlambat satu jam dari jadwal seharusnya.
Hari ini memang penuh keribetan. Namun, anak-anak dan kehidupan mereka harus diperjuangkan: berantakan, tergesa, penuh jeda tak terduga, namun tetap dijalani dengan cinta yang besar.
Komentar