Besok, bukan Senin yang biasa. Pertengahan Juni ini adalah salah satu hari penting dalam perjalanan panjangmu. Petualangan yang dimulai dari keberanian mengambil keputusan untuk melanjutkan studi di negeri yang jauh dari rumah, keluarga, dan segala kenyamanan yang biasa menemani. Ada begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan menyelesaikan berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Di balik setiap capaian hari ini, ada kerja keras, ketekunan, dan pengorbanan yang tidak terungkap—karena kau tidak suka meromantisasi perjuangan.
Sebagai istrimu, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk beberapa hal. Terima kasih karena selalu berusaha menjadi suami yang mendengarkan dan mau mengerti, yang mengutamakan keluarga di tengah waktu yang menghimpit dan tanggung jawab yang tidak sedikit. Terima kasih karena selalu hadir dengan perhatian, dukungan, dan kasih sayang yang membuat aku dan anak-anak merasa dicintai dan dihargai tanpa pernah merasa sendiri. Terpenting lagi, terima kasih karena selalu memilihku tanpa ada opsi, bahkan ketika jarak menghadang dan berbagai kerikil hidup datang silih berganti.
Aku tahu tidak semua perjuanganmu mudah. Namun, sejak kau mengikatkan diri denganku di hadapan Tuhan, aku tahu kau tak pernah menikmati hidup untuk dirimu sendiri. Pundi-pundi rejeki rela kau bagi. Kesenanganmu rela kau batasi. Berbagai kesempatan rela kau lewatkan, demi melihat hariku dan anak-anak mengalun dengan syahdu.
Besok, di hari yang kita tunggu-tunggu, aku akan terus mendoakan setiap jawabanmu memuaskan penguji. Meski bagiku kau sudah lulus tanpa revisi. Semoga rezekimu semakin dilimpahkan, hatimu selalu dilapangkan, langkahmu selalu dimudahkan, dan segala kebaikan yang kamu tanam kembali kepadamu dalam bentuk yang lebih indah. Semoga besok sidang tesismu berjalan lancar, diberikan ketenangan, kemudahan dalam menjawab setiap pertanyaan, serta hasil terbaik yang memang pantas kamu dapatkan. Aamiin. My love ❤️
Komentar