Sejak siang, langit sudah terlihat gelap. Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang tebal, menekan, dan membuat dada terasa sempit. Jam masih menunjukkan pukul 10.30. Dua jam lagi aku harus menjemput anakku. Waktu masih terasa cukup, sampai hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba.
Awalnya aku memilih menunggu. Kupikir hujan akan reda seperti hujan-hujan lain yang datang lalu pergi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Air turun semakin lebat, sangat lebat, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Suasana berubah mencekam. Aku dan ART saling berpandangan, lalu mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: banjir.
Dan kemungkinan itu benar-benar datang. Meski sudah kesekian kali, kami tak pernah terbiasa. Air masuk cepat, naik tanpa banyak memberi waktu. Banjir cukup dalam, cukup tinggi, cukup untuk membuat perabotan mulai bergerak dan mengambang. Rumah yang biasanya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga.
Di tengah kepanikan yang ditahan-tahan, aku menyadari satu hal bahwa waktu telah bergulir: aku tidak bisa menjemput anakku. Aku menghubungi orang-orang, berharap ada satu tangan yang bisa menjangkau ke luar. Namun keadaan sedang tidak berpihak. Ada yang rumahnya juga kebanjiran, ada yang terjebak banjir di jalan, ada pula yang harus fokus pada prioritasnya. Sementara itu, ponselku terus berbunyi. Bunda di sekolah menghubungi berulang kali, menanyakan kabar, menunggu kepastian.
Aku masih bertahan di rumah. Bersama bayiku, ART, dan perabotan yang perlahan kehilangan tempatnya. Di luar, jalanan masih terendam. Tidak ada ojek online yang bersedia mengantar. Semua jalur seperti tertutup, bukan hanya oleh air, tapi juga oleh rasa tak berdaya. Kami terus berjuang di dalam rumah yang mirip kolam. Ada rasa pasrah, ada pula ikhlas yang harus diusahakan.
Menjelang pukul empat sore, air akhirnya mulai surut. Tidak sepenuhnya, tapi cukup memberi harapan. Aku segera mencari taksi online, sambil berusaha sebisaku membersihkan puing-puing barang di rumah. Namun hasilnya nihil, tak ada satupun pengemudi yang gagah berani mobilnya rusak oleh air. Aku segera menghubungi seorang teman dan tanpa ragu sedikitpun dia bersedia. Sungguh tulisan ini sebagai wujud terima kasihku padanya yang tak akan pernah aku lupakan. Beruntungnya, ada ojek online yang juga bersedia mengantarku. Dengan bayiku dalam dekapan, aku berangkat naik motor, menerjang sisa-sisa banjir dan jalanan yang masih basah oleh kekacauan beberapa jam sebelumnya.
Pukul lima sore, aku tiba di sekolah, bersamaan dengan mobil temanku yang tiba. Kami berdua segera ke kelas anakku. Anakku adalah yang terakhir dijemput. Ia tertidur, lelah menunggu. Pemandangan itu diam-diam menghantamku: antara lega karena akhirnya sampai, dan sesak karena ia harus menunggu selama itu.
Kami tidak langsung pulang. Kami mampir untuk membeli kebutuhan dan makanan. Malam itu, kami menuju hotel. ART menyusul belakangan, membersihkan rumah sebisanya terlebih dahulu, mengembalikan sedikit keteraturan setelah hari yang kacau. Tubuh kami lelah, pikiran kami penuh, dan perasaan kami belum sepenuhnya pulih.
Hari itu meninggalkan sisa trauma. Namun kami tetap harus beristirahat. Karena esok hari masih panjang,
dan hidup selalu seperti air: akan terus mencari jalannya sendiri.
Komentar