22 Oktober 2025. Sejak siang, langit sudah terlihat gelap. Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang tebal, menekan, dan membuat dada terasa sempit. Jam masih menunjukkan pukul 10.30. Dua jam lagi aku harus menjemput anakku. Waktu masih terasa cukup, sampai hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Awalnya aku memilih menunggu. Kupikir hujan akan reda seperti hujan-hujan lain yang datang lalu pergi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Air turun semakin lebat, sangat lebat, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Suasana berubah mencekam. Aku dan ART saling berpandangan, lalu mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: banjir. Dan kemungkinan itu benar-benar datang. Meski sudah kesekian kali, kami tak pernah terbiasa. Air masuk cepat, naik tanpa banyak memberi waktu. Banjir cukup dalam, cukup tinggi, cukup untuk membuat perabotan mulai bergerak dan mengambang. Rumah yang biasanya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga. Di tengah kepanikan yang ...
Ada hari-hari ketika aku merasa seperti orang gila yang dipaksa tetap waras. Kepalaku penuh suara, pikiranku berlarian tanpa arah, sementara tubuhku berjalan di autopilot. Namun di luar sana, tak ada ruang untuk benar-benar berhenti. Anak-anak tetap butuh diurus, rumah tetap menuntut rapi, dan pekerjaan tetap meminta tanggung jawab. Dulu aku memang bekerja untuk mengabdi namun kini banyak yang ku usahakan dan semua tak datang sendiri. Di sisi lain, ruangku terbatas di sini. Aku tertawa di depan anak-anak, lalu menangis di dalam kepala. Tanganku membersihkan rumah, sementara pikiranku membereskan kekacauan yang tak terlihat. Aku bekerja dengan senyum tipis, menyusun kalimat, menyelesaikan tugas, seolah tak ada badai kecil yang berputar-putar di dalam dada. Kadang rasanya seperti berdiri di panggung sandiwara. Aku memainkan banyak peran sekaligus—ibu yang sabar, istri yang hadir, pekerja yang profesional—tanpa sempat turun panggung untuk menarik napas. Jika aku goyah, tak ada tombol je...