Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Batas Air dan Kesabaran (bagian 3)

Pada hari-hari ketika langit terlalu rendah dan hujan turun tanpa jeda, aku belajar bahwa air bukan sekadar jatuh dari atas kepala. Ia datang membawa ujian, menyusup pelan ke dalam rumah, lalu diam-diam mengaduk-aduk perasaan. Banjir selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali, dan bahwa tidak semua bisa diselamatkan. Ada beberapa hal yang tidak aku suka dari banjir. Yang pertama adalah ketika barang-barang dan kenangan hilang bersamaan. Air tidak memilah mana benda dan mana cerita; semuanya direndam, dilenyapkan, dipaksa pergi. Foto-foto lama, catatan kecil, dan barang yang terlihat sepele ternyata menyimpan potongan hidup. Saat semuanya luruh, aku tersadar bahwa dunia memang rapuh, dan bahwa yang benar-benar abadi hanyalah apa yang Allah titipkan di dalam ingatan dan hati. Hal kedua adalah rasa lapar yang bercampur takut. Perut kosong, sementara pikiran dipenuhi kemungkinan terburuk. Rasa takut membuat lapar terasa lebih peri...

Batas Air dan Kesabaran (bagian 2)

22 Oktober 2025. Sejak siang, langit sudah terlihat gelap. Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang tebal, menekan, dan membuat dada terasa sempit. Jam masih menunjukkan pukul 10.30. Dua jam lagi aku harus menjemput anakku. Waktu masih terasa cukup, sampai hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Awalnya aku memilih menunggu. Kupikir hujan akan reda seperti hujan-hujan lain yang datang lalu pergi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Air turun semakin lebat, sangat lebat, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Suasana berubah mencekam. Aku dan ART saling berpandangan, lalu mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: banjir.  Dan kemungkinan itu benar-benar datang. Meski sudah kesekian kali, kami tak pernah terbiasa. Air masuk cepat, naik tanpa banyak memberi waktu. Banjir cukup dalam, cukup tinggi, cukup untuk membuat perabotan mulai bergerak dan mengambang. Rumah yang biasanya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga. Di tengah kepanikan yang ...

Tanpa Jeda

​ Ada hari-hari ketika aku merasa seperti orang gila yang dipaksa tetap waras. Kepalaku penuh suara, pikiranku berlarian tanpa arah, sementara tubuhku berjalan di autopilot. Namun di luar sana, tak ada ruang untuk benar-benar berhenti. Anak-anak tetap butuh diurus, rumah tetap menuntut rapi, dan pekerjaan tetap meminta tanggung jawab. Dulu aku memang bekerja untuk mengabdi namun kini banyak yang ku usahakan dan semua tak datang sendiri. Di sisi lain, ruangku terbatas di sini. Aku tertawa di depan anak-anak, lalu menangis di dalam kepala. Tanganku membersihkan rumah, sementara pikiranku membereskan kekacauan yang tak terlihat. Aku bekerja dengan senyum tipis, menyusun kalimat, menyelesaikan tugas, seolah tak ada badai kecil yang berputar-putar di dalam dada. Kadang rasanya seperti berdiri di panggung sandiwara. Aku memainkan banyak peran sekaligus—ibu yang sabar, istri yang hadir, pekerja yang profesional—tanpa sempat turun panggung untuk menarik napas. Jika aku goyah, tak ada tombol je...

Rutinitas tanpa Kompas

​ Aku belum pernah seberantakan ini dalam hidup. Padahal aku dikenal cukup rapi, seseorang yang bersahabat dengan jadwal dan merasa aman jika segalanya berjalan sesuai urutan. Namun pagi ini terasa lain. Sebenarnya tidak sepenuhnya berbeda dari pagi-pagi sebelumnya—hanya saja, kali ini kekacauannya terasa lebih lantang. Aku bangun dengan tubuh yang nyeri, kepala berat, dan perasaan yang tak enak badan. Anak-anakku sedang flu; mungkin aku hanya giliran berikutnya. Tapi hidup tidak menunggu siapa pun benar-benar sehat. Hari tetap berjalan. Anak-anak tetap harus makan, mengenakan baju bersih, dan rumah tetap dituntut rapi oleh hati yang ingin hidu tenang. Begitu keluar dari kamar tidur, aku berdiri sebentar. Bingung menentukan arah. Mana yang harus dibereskan lebih dulu: rumah yang berantakan, atau pikiranku yang sudah lebih dulu kusut? Rasanya seperti berada di persimpangan kecil di dalam kepala sendiri. Setelah menimbang sebentar, aku memutuskan meliburkan anakku dari sekolah hari ini—b...

Hujan dan Tarian di Ruang Tengah

Minggu pagi dibuka oleh hujan yang turun setengah hati. Tidak deras, tidak pula benar-benar gerimis. Aku duduk memegang segelas es kopi cokelat yang dingin. Rasanya biasa saja, bahkan cenderung kurang enak, tapi tetap berusaha kuhabiskan. Bukan karena optimis, melainkan karena aku tahu.. menghargai buatanku sendiri hari ini bisa menghemat puluhan ribu rupiah.  Minuman itu, segelas es di hari yang dingin, aku teguk dengan perlahan seperti seseorang yang sudah kalah di meja judi, tapi masih cukup nekat untuk kembali menantang kehidupan. Di ruang tengah, anak sulungku menonton televisi. Sesekali berganti bermain balapan mobil. Dia cukup lihai di usianya yang baru 4 tahun. Yang bungsu entah mengapa terlihat anteng di box-nya. Kesempatan langka itu kugunakan untuk bengong sejenak, membiarkan pikiran berjalan sendiri, menelusuri hidup yang rasanya… nanggung. Hujan di luar masih sama. Nanggung, seperti kehidupanku. Aku tidak terlalu pintar, tapi juga tidak bodoh. Aku pernah menjuarai olim...

Jumat

Aku menulis ini sambil duduk di sebuah kedai mie pedas. Nafasku mulai teratur, sungguh kontras dengan beberapa menit sebelumnya. Jemariku mulai merenggang. Aku bisa duduk nyaman meski sejenak. Satu setengah jam merupakan jeda yang baik untukku.   Hari ini Jumat. Hari yang sedikit berbeda dari biasanya, karena anakku yang TK A harus masuk pagi pukul 07.30, sementara di hari lain ia terbiasa berangkat siang.   Sejak subuh, hujan turun deras. Suaranya menemani kegelisahanku. Sempat terlintas keinginan untuk membujuknya tidak berangkat sekolah hari ini, bukan karena malas, tapi karena aku khawatir flunya akan semakin bertambah parah. Aku pun mencoba membujuknya pelan-pelan. Aku juga melambatkan ritme aktivitasku. Merebahkan diri sejenak di samping anakku. Namun sekitar lima belas menit kemudian, hujan mulai reda, dan rencana pun kembali berubah. Pagi itu berjalan cepat. Genderang perang seperti ditabuh. Tangan dan kakiku seperti mengikuti irama waktu yang terus berlari. Aku memand...

Batas Air dan Kesabaran

Hujan turun begitu deras siang ini. Aku bersyukur aku sudah sampai di rumah setelah menjemput kakak. Hatiku panik. Nada suaraku meninggi meminta kakak cepat ganti baju dan bersiap. Banjir mungkin datang. Kasihan anak sekecil itu sudah harus menerima semua peluhku. Tapi bagaimanapun, kondisi ini nyata. Hujan masih menggema. Suaranya menghantam atap tanpa jeda, seperti ingin menguji seberapa kuat dadaku menahan cemas. Setiap tetesnya membawa ingatan yang tak sepenuhnya pergi. Aku diam, tapi pikiranku berlarian ke masa lalu yang masih terasa basah dan dingin.  Banjir itu pernah datang dengan cepat, naik tanpa permisi hingga setinggi lutut. Air masuk, barang-barang tumbang, kasur basah dan tak lagi bisa ditiduri. Rumah yang seharusnya aman berubah menjadi tempat bertahan. Perihnya bukan hanya di badan, tapi juga di hati, tak berdaya melihat segalanya hanyut oleh keadaan. Aku pasrah waktu itu, hanya doa yang kupanjatkan.. sambil berpikir ke mana aku anak naik dan menyelamatkan anak-anak...

Sawah

Di antara banyak hal yang tumbuh tidak sempurna, aku belajar bersyukur pada satu hal yang tetap berdiri. Seperti tanah yang tenang menerima hujan, ada seseorang yang memilih bertahan, memikul, dan tidak pergi. Namanya “SaWah”—tempat aku belajar bahwa kepercayaan itu bisa dilatih dan tidak semua yang dekat akan melukai. Aku tumbuh dengan menyaksikan janji yang mudah runtuh, tanggung jawab yang sering dialihkan, dan kehadiran yang lebih sering berupa bayangan. Maka wajar jika aku belajar berjaga, menahan separuh percaya, dan menyimpan kunci di saku sendiri. Dunia terlalu sering mengajarkan bahwa bahu laki-laki tak selalu mau menanggung beban, kakinya tak selalu kokoh. Namun dia hadir dengan cara yang berbeda. Tidak banyak kata, tapi langkahnya konsisten. Tidak gemar memamerkan, tapi tahu kapan harus memikul. Selalu membingkai sikap sehingga semua terasa terang dan jelas. Di saat sekeliling lebih suka menoleh pergi, ia justru memastikan pulang. Dalam diamnya, ada usaha yang tidak meminta ...

Kakak dan Adik

Aku menulis ini di sela-sela cahaya siang yang mulai meredup karena mendung. Di depanku, suara tawa si kakak yang berusia 4 tahun beradu dengan rengekan si bungsu yang baru 10 bulan. Dua hati kecil itu, dua dunia berbeda, dua ritme yang kadang membuatku melankolis dan kadang bikin aku tak henti menghela napas.   Pagi-pagi aku sudah disambut oleh tangan mungil yang seolah membangunkan tidurku—dengan caranya sendiri yang berisik. Si kakak tak lama akan bangun dari tidurnya, berkali-kali menanyakan ke padaku, “Mama, ini sudah subuh?”. Adegan ini berlanjut hingga saat waktunya sarapan. Kakak sudah sibuk ingin menonton tv. Sedangkan si bungsu memanggilku dari boks bayi, teriakannya, serak-serak lucu minta digendong dan dimanja. Dalam satu napas itu aku merasa dibutuhkan dan ditantang sekaligus. Menjaga dua anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh ternyata bukan hanya soal tenaga. Ini soal strategi. Kakak yang 4 tahun haus akan cerita, dunia otomotif dan permainan petualangan, sementar...

Kacamata syukur

Malam ini aku sesenggukan melihat kedua anakku bermain. Tangis haru tak bisa terbendung lagi. Melihat mereka tertawa hidup rasanya sempurna. Semoga ini jadi pengingat bagiku. Hidup memang penuh suka duka. Ada banyak target dan keinginan di depan mata. Serasa suliiit sekali menggapainya. Tapi jika melihat satu persatu yang ‘ku punya sekarang ini, sungguh semuanya luar biasa 🥹 Badanku sehat dan bisa berdiri kokoh hingga hari ini. Ada dua anak cerdas menghiasi hari-hariku. Pagi hingga sore merupakan hari yang penuh tenaga, sering aku pusing dibuatnya. Tapi, malam yang sepi, ruang kosong tanpa celotehan mereka, ternyata terasa hampa. Ada lagi milikku yang berharga. Darinya, aku belajar semangat perjuangan yang diselimuti canda tawa. Di tengah hiruk pikuk hidup yang penuh kompetisi, semua berlomba menampakkan prestasi, ada dia yang selalu tampil haha hihi. Membuatku lebih nyaman dan santai menjalani hari-hari. Terima kasih suami. Kini aku juga tinggal di tempat yang nyaman dan dikelilingi ...