22 Oktober 2025. Sejak siang, langit sudah terlihat gelap. Bukan gelap biasa, melainkan gelap yang tebal, menekan, dan membuat dada terasa sempit. Jam masih menunjukkan pukul 10.30. Dua jam lagi aku harus menjemput anakku. Waktu masih terasa cukup, sampai hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Awalnya aku memilih menunggu. Kupikir hujan akan reda seperti hujan-hujan lain yang datang lalu pergi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Air turun semakin lebat, sangat lebat, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Suasana berubah mencekam. Aku dan ART saling berpandangan, lalu mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: banjir. Dan kemungkinan itu benar-benar datang. Meski sudah kesekian kali, kami tak pernah terbiasa. Air masuk cepat, naik tanpa banyak memberi waktu. Banjir cukup dalam, cukup tinggi, cukup untuk membuat perabotan mulai bergerak dan mengambang. Rumah yang biasanya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga. Di tengah kepanikan yang ...
Always look on the bright side of life