Hujan turun begitu deras siang ini. Aku bersyukur aku sudah sampai di rumah setelah menjemput kakak. Hatiku panik. Nada suaraku meninggi meminta kakak cepat ganti baju dan bersiap. Banjir mungkin datang. Kasihan anak sekecil itu sudah harus menerima semua peluhku. Tapi bagaimanapun, kondisi ini nyata. Hujan masih menggema. Suaranya menghantam atap tanpa jeda, seperti ingin menguji seberapa kuat dadaku menahan cemas. Setiap tetesnya membawa ingatan yang tak sepenuhnya pergi. Aku diam, tapi pikiranku berlarian ke masa lalu yang masih terasa basah dan dingin. Banjir itu pernah datang dengan cepat, naik tanpa permisi hingga setinggi lutut. Air masuk, barang-barang tumbang, kasur basah dan tak lagi bisa ditiduri. Rumah yang seharusnya aman berubah menjadi tempat bertahan. Perihnya bukan hanya di badan, tapi juga di hati, tak berdaya melihat segalanya hanyut oleh keadaan. Aku pasrah waktu itu, hanya doa yang kupanjatkan.. sambil berpikir ke mana aku anak naik dan menyelamatkan ana...
Di antara banyak hal yang tumbuh tidak sempurna, aku belajar bersyukur pada satu hal yang tetap berdiri. Seperti tanah yang tenang menerima hujan, ada seseorang yang memilih bertahan, memikul, dan tidak pergi. Namanya “SaWah”—tempat aku belajar bahwa kepercayaan itu bisa dilatih dan tidak semua yang dekat akan melukai. Aku tumbuh dengan menyaksikan janji yang mudah runtuh, tanggung jawab yang sering dialihkan, dan kehadiran yang lebih sering berupa bayangan. Maka wajar jika aku belajar berjaga, menahan separuh percaya, dan menyimpan kunci di saku sendiri. Dunia terlalu sering mengajarkan bahwa bahu laki-laki tak selalu mau menanggung beban, kakinya tak selalu kokoh. Namun dia hadir dengan cara yang berbeda. Tidak banyak kata, tapi langkahnya konsisten. Tidak gemar memamerkan, tapi tahu kapan harus memikul. Selalu membingkai sikap sehingga semua terasa terang dan jelas. Di saat sekeliling lebih suka menoleh pergi, ia justru memastikan pulang. Dalam diamnya, ada usaha yang tidak memi...