Langsung ke konten utama

Postingan

Batas Air dan Kesabaran

 Hujan turun begitu deras siang ini. Aku bersyukur aku sudah sampai di rumah setelah menjemput kakak. Hatiku panik. Nada suaraku meninggi meminta kakak cepat ganti baju dan bersiap. Banjir mungkin datang. Kasihan anak sekecil itu sudah harus menerima semua peluhku. Tapi bagaimanapun, kondisi ini nyata. Hujan masih menggema. Suaranya menghantam atap tanpa jeda, seperti ingin menguji seberapa kuat dadaku menahan cemas. Setiap tetesnya membawa ingatan yang tak sepenuhnya pergi. Aku diam, tapi pikiranku berlarian ke masa lalu yang masih terasa basah dan dingin.  Banjir itu pernah datang dengan cepat, naik tanpa permisi hingga setinggi lutut. Air masuk, barang-barang tumbang, kasur basah dan tak lagi bisa ditiduri. Rumah yang seharusnya aman berubah menjadi tempat bertahan. Perihnya bukan hanya di badan, tapi juga di hati, tak berdaya melihat segalanya hanyut oleh keadaan. Aku pasrah waktu itu, hanya doa yang kupanjatkan.. sambil berpikir ke mana aku anak naik dan menyelamatkan ana...
Postingan terbaru

Sawah

​ Di antara banyak hal yang tumbuh tidak sempurna, aku belajar bersyukur pada satu hal yang tetap berdiri. Seperti tanah yang tenang menerima hujan, ada seseorang yang memilih bertahan, memikul, dan tidak pergi. Namanya “SaWah”—tempat aku belajar bahwa kepercayaan itu bisa dilatih dan tidak semua yang dekat akan melukai. Aku tumbuh dengan menyaksikan janji yang mudah runtuh, tanggung jawab yang sering dialihkan, dan kehadiran yang lebih sering berupa bayangan. Maka wajar jika aku belajar berjaga, menahan separuh percaya, dan menyimpan kunci di saku sendiri. Dunia terlalu sering mengajarkan bahwa bahu laki-laki tak selalu mau menanggung beban, kakinya tak selalu kokoh. Namun dia hadir dengan cara yang berbeda. Tidak banyak kata, tapi langkahnya konsisten. Tidak gemar memamerkan, tapi tahu kapan harus memikul. Selalu membingkai sikap sehingga semua terasa terang dan jelas. Di saat sekeliling lebih suka menoleh pergi, ia justru memastikan pulang. Dalam diamnya, ada usaha yang tidak memi...

Kakak dan Adik

Aku menulis ini di sela-sela cahaya siang yang mulai meredup karena mendung. Di depanku, suara tawa si kakak yang berusia 4 tahun beradu dengan rengekan si bungsu yang baru 10 bulan. Dua hati kecil itu, dua dunia berbeda, dua ritme yang kadang membuatku melankolis dan kadang bikin aku tak henti menghela napas.   Pagi-pagi aku sudah disambut oleh tangan mungil yang seolah membangunkan tidurku—dengan caranya sendiri yang berisik. Si kakak tak lama akan bangun dari tidurnya, berkali-kali menanyakan ke padaku, “Mama, ini sudah subuh?”. Adegan ini berlanjut hingga saat waktunya sarapan. Kakak sudah sibuk ingin menonton tv. Sedangkan si bungsu memanggilku dari boks bayi, teriakannya serak-serak lucu minta digendong dan dimanja. Dalam satu napas itu aku merasa dibutuhkan dan ditantang sekaligus. Menjaga dua anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh ternyata bukan hanya soal tenaga. Ini soal strategi. Kakak yang 4 tahun haus akan cerita, dunia otomotif dan permainan petualangan, sementara...

Kacamata syukur

Malam ini aku sesenggukan melihat kedua anakku bermain. Tangis haru tak bisa terbendung lagi. Melihat mereka tertawa hidup rasanya sempurna. Semoga ini jadi pengingat bagiku. Hidup memang penuh suka duka. Ada banyak target dan keinginan di depan mata. Serasa suliiit sekali menggapainya. Tapi jika melihat satu persatu yang ‘ku punya sekarang ini, sungguh semuanya luar biasa 🥹 Badanku sehat dan bisa berdiri kokoh hingga hari ini. Ada dua anak cerdas menghiasi hari-hariku. Pagi hingga sore merupakan hari yang penuh tenaga, sering aku pusing dibuatnya. Tapi, malam yang sepi, ruang kosong tanpa celotehan mereka, ternyata terasa hampa. Ada lagi milikku yang berharga. Darinya, aku belajar semangat perjuangan yang diselimuti canda tawa. Di tengah hiruk pikuk hidup yang penuh kompetisi, semua berlomba menampakkan prestasi, ada dia yang selalu tampil haha hihi. Membuatku lebih nyaman dan santai menjalani hari-hari. Terima kasih suami. Kini aku juga tinggal di tempat yang nyaman dan dikelilingi ...

Rumah

Aku menulis ini di kesunyian malam. Diapit dua anak laki-lakiku yang tertidur pulas. Ditemani juga dengan mbak ART. Kami tidur bersama-sama di sebuah hotel dalam rangka pengungsian. Rumah kami kebanjiran. Kini air mulai surut. Teman dan kerabat datang membantu. Kami telah beristirahat malam di tempat yang nyaman setelah 10 jam diliputi rasa lelah dan panik. Tapi di tengah keadaan yang mulai membaik, aku tiba-tiba rindu suamiku. Saat kulihat bola matanya tadi menyiratkan kekhawatiran yang besar —saat aku terus mengabarinya tentang keadaan di sini. Seperti cemas tapi tak bisa berbuat banyak karena jarak yang cukup memberi batas. Aku rindu perasaan aman saat berada di dekatnya. Serasa dunia akan selalu baik-baik saja. Semua duka, lara, dan kecemasan tak bertepi tiba-tiba sirna. Aku rindu saat bumi terasa berhenti, waktu mati, dan hanya aku dan dia yang abadi. Aku tahu, aku tak pernah salah memilih rumah.

Terima kasih, Adek

Dengan mengucap syukur alhamdulillah, hari ini adek sudah berusia 5,5 bulan. Setengah langkah lagi menuju mpasi. Rasanya bulan-bulan yang lalu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana mengurus adek sendirian seperti ini sejak mama bapak pulang. Tapi ternyata, sambil terseok-seok, semua tetap berjalan dengan baik dan dengan hati yang lapang. Awal kelahiran adek Icay sangat menyenangkan buatku. Aku merasa cepat recovery dan asi-ku langsung diproduksi. Mungkin karena aku bahagia bisa melahirkan di rumah sakit yang bagus, gratis dan ditemani suami. Aku juga terbantu oleh mama bapak dalam mengurus adek, Ucay serta pekerjaan rumah. Adek sangat lancar minum asi lewat dot dan dbf. Aku pun bisa “bernapas” dan beristirahat saat adek diasuh nenek kakeknya. Aku juga bisa tetap mengurus Ucay yang baru beradaptasi dengan pertambahan anggota keluarga. Tapi lama kelamaan ternyata 75% asupan asi adek lewat botol dot. Ditambah lagi ternyata adek tongue tie (tapi tidak perlu diinsisi karena derajatnya ring...

Semoga lekas sembuh

Kalau anak-anak udah tidur, waktu terasa semakin panjang. Kerjaan-kerjaan yang tadi tak sempat dikerjakan, malah jadi ku kesampingkan. Lebih memilih istirahat dan scroll sosmed saja. Hari ini aku antar si bungsu berobat. Di sana sudah banyak anak-anak yang antre ditemani ayah ibunya. Aku jadi ingin juga, rindu ditemani suami atau bapakku untuk periksa Ucay dan Icay. Karena tadi repot sekali bawa bayi ke poliklinik rumah sakit, mendaftar, masuk ke ruang dokter dan antri obat sambil menggendong bayi aktif, menyusui dan bawa tas. Sepanjang 3 jam antre, aku mondar mandir menidurkan Icay yang terus-terusan menangis di koridor. Juga tak lupa mengecek cctv lewat hape, liat si kakak sedang apa. Karena belakangan, kakak juga kurang enak badan dan sering flu. Tapi… selelah-lelahnya bermain sama anak-anakku, aku tidak akan sampai stress dibandingkan ketika mendengar mereka sakit. Lelahnya bukan di fisik tapi pikiran. Aku bersyukur sekali dikaruniai dua anak laki-laki yang lucu. Aku selalu berhara...